Jumat, 04 Maret 2011

filsafat bahasa

LUDWIG WITTGENSTEIN


I. Pengantar
Filsafat bahasa merupakan salah satu aliran yang cukup berpengaruh dalam filsafat Barat, terutama di Inggris. Filsafat Bahasa berfungsi untuk mengoreksi penggunaan bahasa yang salah dan tidak logis. Sebuah bahasa dikatakan baik dan benar jika mempunyai makna yang jelas dan tidak menyesatkan orang lain.
Dalam filsafat bahasa arti sebuah kata dapat diketahui dari konteks pemakaiannya. Sebuah kata terkadang berlainan makna dan bahkan tidak mempunyai makna dalam suatu konteks tertentu sedangkan dalam konteks lain mempunyai makna.
Mengatasi hal ini banyak filsuf yang berusaha membahas mengenai bahasa dan maknanya yang kita kenal dengan filsafat bahasa. Salah satu tokoh yang membahas masalah ini adalah Ludwig Wittgenstein. Wittgenstein membahas tentang penggunaan bahasa yang bermakna dan menolak penggunaan bahasa metafisis yang tidak bermakna. Secara mendalam, gagasan-gagasan dari Wittgenstein akan kami bahas secara lebih mendalam pada bagian berikut.

II. Riwayat Hidup
Ludwig Wittgenstein lahir di Wina, Austria pada tanggal 26 April 1889. Ia adalah anak bungsu dari delapan bersaudara. Ayahnya bernama Karl Wittgenstein adalah seorang keturunan Yahudi yang pindah menjadi kristen. Ia adalah seorang insinyur dan menjadi pemimpin industri baja, sedangkan ibu Wittgenstein adalah seorang katolik, putri dari seorang direktur bank di Wina, Austria yang sangat berbakat dalam seni musik, sehingga bakat ini pada akhirnya diturunkan kepada Wittgenstein. Bagi Wittgenstein bakat musik ini sangat mempengaruhi hidupnya khususnya dalam karya-karya filsafatnya.
Pada tahun 1906, Wittgenstein memulai studi di Techniche Hoocschule di Berlin. Tahun 1908, ia melanjutkan studinya di Inggris pada studi riset teknik pesawat terbang. Namun, Wittgenstein sangat berminat pada bidang matematika dan filsafat, yang kemudian mendorongnya untuk mempelajari dan mendalami kedua bidang ilmu ini. Pada tahun 1911, Wittgenstein berusaha untuk memperdalam kedua ilmu tersebut. Selama perang dunia I, Wittgenstein menjadi tentara sukarelawan Austria-Hungaria. Selama perang tersebut, ia mempersiapkan Tractatus Logica yakni hilisophicus yang diterbitkan dalam satu majalah dan kemudian menjadi sebuah buku.
Pada tahun 1929, Wittgenstein kembali berminat terhadap filsafat sehingga ia memutuskan untuk kembali ke Cambridge untuk melanjutkan studinya. Ia kemudian diberi gelar doktor dan mengajar di Trinity Colege. Pada tahun 1936, Wittgenstein pindah dan menetap di Norwegia. Di sanalah ia menuangkan pikiran-pikirannya dalam bukunya yang berjudul Philosophical Investigation. Tahun 1938, ia diterima sebagai warga negara Inggris dan menggantikan Moore sebagai profesor di Trinity College. Pada tanggal 29 April 1051 Wittgenstein meninggal dunia di Cambridge karena penyakit kanker.

III. Karya-Karya wittgenstein
Karya Wittgenstein yang pertama adalah Tractatus Logica. Philosophicus (tahun 1922) sebuah artikel pendek tentang logika (tahun 1929). Tractatus Logica karya Wttgenstein ini, sekaligus merupakan puncak atomisme logika yang dipelopori oleh Russel dan merupakan langkah persiapan bagi Neopositivisme. Buku ini memuat suatu metafisika yang judulnya tidak secara kebetulan mengingatkan akan Tractus Theologica-politicus hasil karya Spinoza yang tidak mengakui dirinya sebagai metafisika namun pengertiannya menunjukan atau telah menyinggung sesuatu yang tidak berhingga.
Sesudah tractatusnya, Wittgenstein tidak lagi menerbitkan buku kecuali sebuah tulisannya pada tahun 1929, yakni sebuah buku yang berjudul Philosophical Investigation.
Wittgenstein mempengaruhi dua aliran filsafat yang cukup berbeda tetapi kedua-duanya dikatakan sangatlah penting. Dua aliran filsafat tersebut dibagi berdasarkan dua periode. Periode pertama yakni sebelum tahun 1930 yang diungkapkan dalam Tractus Logica-Philosophicus, dan mempengaruhi lingkaran Wina dan Neopositivisme di Inggris. Periode kedua yakni sesudah tahun 1930, dituangkan dalam tulisan Philosophical Investigations, menjadi pangkal analitika bahasa.
Perbedaan antara kedua periode dapat diuraikan sebagai berikut:Wittgenstein I berpendapat bahwa hanya pertanyaan-pertanyaan yang berupa suatu deskripsi mempunyai arti (singkatnya: meaning is picture), sedangkan Wittgenstein II berpendapat bahwa arti suatu pertanyaan tergantung dari jenis bahasa yang dipakai ( singkatnya: meaning is use). Wittgeinstein I (periode Tractatus) memberi jawaban-jawaban, sedangkan “Wittgeinstein II” ( periode Philosophical Investigations) merumuskan pertanyaan-pertanyaan.

A. Wittgenstein I.
Tulisan pertama Wittgenstein, Tractus Logika Philosophicus, hanya memuat 75 halaman dan hanya terdiri dari pertanyaan-pertanyaan singkat namun buku yang sangat singkat ini merupakan suatu ringkasan yang sangat padat dari suatu jalan berpikir yang panjang sekali. Pertanyaan pokok Tractus adalah: bagaimanakah bahasa mungkin? Bagaimana mungkin bahwa manusia mengatakan segala sesuatu yang dapat dimengerti oleh orang lain. Kita hanya memakai kata-kata dan kalimat-kalimat, dan itu cukup untuk meneruskan pikiran-pikiran kita kepada orang lain. Kesimpulan Wittgenstein dalam Tractus adalah bahwa itu hanya mungkin karena bahasa merupakan suatu gambaran, suatu Picture dari kenyataan. Bahasa “memperlihatkan” (shows) artinya. Salah satu unsur yang penting dari uraiannya adalah picture theory atau “teori gambar”. Wittgenstein berpendapat bahwa dengan teori gambar tersebut, kita dapat mengatakan sesuatu tentang realitas. Dengan demikian, hanya dengan teori gambar, bahasa manusia dikatakan dapat menjadi lebih bermakna.
Wittgenstein berkeyakinan bahwa semua ucapan kita (manusia) mengandung satu atau lebih posisi elementer, artinya propersi yang tidak sapat dianalisa lagi. Perlu dimengerti bahwa propersi elementer lebih dimaksudkan kepada suatu bentuk logis dan bukan suatu ucapan konkret. Secara singkat dapat kita rumuskan inti pemikiran Wittgenstein tentang proposisi elementer. Dikatakannya bahwa proposisi elementer pada umumnya terdiri dari nama-nama. Suatu nama menunjuk pada suatu obyek dalam realitas, tetapi nama-nama tersendiri tidak mempunyai makna. Nama-nama tersendiri tidak mengatakan sesuatu dan akibatnya tidak mungkin bersifat benar atau tidak benar. Hanyalah proposisi yang mempunyai makna.
Wittgenstein berpendapat bahwa hanya “teori gambar” ini sanggup menjelaskan bahwa kita dapat mengatakan sesuatu tentang realitas. Lebih lanjut dia menegaskan bahwa proposisi majemuk adalah truth-function, artinya kebenarannya tergantung dari proposisi-proposisi elementer yang membentuknya. Apa yang disebut sebagai logical constants ( “ tidak”, “dan”, “kalau-maka”) tidak menunjuk obyek-obyek dalam realitas. Dalam realitas tidak ada sesuatu yang sesuai dengannya. Seandainya tidak, maka P akan menjadi sesuatu yang lain daripada-P (P mengacu ke proposisi dan tanda mengacu ke pengikraran). Jadi ada dua macam proposisi yang tidak dapat ditangani dengan cara yang sama seperti proposisi-proposisi yang menggambarkan realitas, yaitu di satu pihak tautologi-tautologi dan di lain pihak kontradiksi-kontradiksi. Tautologi-tautologi itu selalu benar (misalnya “John berada di tempat A atau ia tidak berada di tempat A”), sedangkan kontradiksi-kontradiksi tidak pernah benar (misalnya, “John berada di tempat A dan ia tidak berada di tempat A”). Dalam pandangan-pandangan Wittgenstein, tautologi-tautologi dan kontradiksi-kontradiksi sebenarnya bukan merupakan suatu proposisi yang sejati, sebab tidak menggambarkan sesuatu. Proposisi itu tidak mengungkapkan gambar dari sesuatu tetapi proposisi-proposisi ini bukan tidak sama sekali tidak bermakna.
Wittgenstein disebut sebagai filsuf yang berorientasi pada anti metafisisis karena pendapatnya sendiri bahwa proposisi-proposisi metafisis tidak bermakna. Hal itu wajar karena menolak metafisis bukanlah hal yang sangat baru dalam sejarah filsafat. Dia menyatakan bahwa metafisika tidak bermakna atas suatu logika bahasa. Menurutnya metafisika terlalu melampaui keadaan faktual hidup manusia melalui bahasa. Hanya filsafat yang dapat menjelaskan kepada orang tentang apa yang dapat dikatakan dan tidak dapat dikatakan. Tetapi Wittgenstein mengakui juga bahwa memang ada hal-hal yang tidak dapat dikatakan dan itulah yang disebut sebagai mistis.

B. Wittgenstein II
Periode setelah Wittgenstein meninggal, ia menyumbangkan sebuah karya yang sangat luar biasa bagi pemikiran filsafat bahasa. Dalam buku yang diterbitkan pada tahun 1953 dengan judul Philisophical Investigation, bahasanya lebih muda dipahami dibandingkan dengan karyanya yang pertama dengan bahasa yang berbelit dan rumit. Dalam Philosophical Investigation, Wittgenstein mengunakaan banyak contoh nyata yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
Wittgenstein berpendapat bahwa, filsafat harus berpegang pada prinsip “Don’t ask for the meaning, ask for the use” (Jangan tanyakan makna, tanyakanlah pemakain bahasa). Analisa bahasa di sini memperlihatkan bagaimana bahasa dipergunakan dalam kehidupan konkret setiap hari.
Wittgenstein berpendapat bahwa, dalam kehidupan sehari-hari kita menjumpai banyak jenis pemakain bahasa yang beraneka ragam, namun dari semuanya itu, masing-masing memiliki kebenaran dan logikanya tersendiri. Satu kata tertentu memiliki arti yang terus-menerus berubah akibat Language games (permainan bahasa). Bahasa cinta, bahasa doa, bahasa koran, bahasa puisi, bahasa pasar; semua ini merupakan language games yang tentunya memiliki kekhasan masing-masing. Dalam bahasa sehari-hari susunannya tidak teratur, akan tetapi kebenarannya harus diterima apabila kita menggalinya sampai pada dasar bahasa supaya makna bahasa dapat dimengerti.

C. Language Games (Prmainan Bahasa)
Faktor yang menyebabkan bahasa salah dimengerti adalah bahasa itu sendiri, sebab dalam kehidupan sehari-hari kerap kita menjumpai pemakaian bahasa yang begitu beragam yang tidak sama pada setiap lingkup pembicaraan kita. Untuk memakai suatu bahasa, kita harus terlebih dahulu mengetahui aturan mainnya. Peraturan dalam permainan catur tentu berbeda dengan peraturan yang ada dalam permainan bola kaki. Kita tidak mungkin mempersatukan kedua permainan ini. Demikian juga dalam “permainan bahasa”, ada banyak cara dalam menggunakan bahasa tergantung pada lingkup mana bahasa digunakan. Setiap keputusan dalam bahasa memiliki kekhasanya masing-masing.
Dalam hahasa cinta misalnya, seseorang mengatakan “Engkau laksana sekuntum Mawar yang selalu memancarkan pesona”. Arti sekuntum Mawar jangan dicari dalam buku matematika, sebab bahasa matematika berbeda dengan bahasa cinta. Dari segi tata bahasa, susunannya sama tetapi maknanya berbeda. Oleh karena itu, suatu kalimat dikatakan bermakna atau tidak bermakna harus dilihat dalam konteksnya.

IV. Kelemahan bahasa filsafat dan tugas filsafat
Bahasa filsafat juga memiliki beberapa kelemahan. Pemakaian bahasa dalam filsafat kadang-kadang dapat membuat orang menjadi bingung. Wittgenstein mencoba menunjukannya dengan konsep-konsep tata permainan bahasa. Para filsuf kurang memperhatikan tata permainan bahasa yang baik dalam berfilsafat. Kelemahan-kelemahan dalam bahasa filsafat antara lain;
• Istilah atau ungkapan dalam bahasa filsafat kurang sesuai dengan tata permainan bahasa yang baik.
• Ada kecendrungan untuk mencari pengertian yang bersifat umum atau bisa dikatakan mencari pengertian dalam keanekaragaman, kesamaan dalam perbedaan, ketunggalan dalam kemajemukan.
• Ada pengertian yang terselubung dalam sebuah istilah, namun penggunaan istilah itu sendiri tidak dapat dipahami.
Tugas dari filsafat yang sebenarnya ialah untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang terjadi dalam pemakaian atau permainan bahasa. Dengan filsafat kelemahan-kelemahan itu dapat diatasi melalui analisa bahasa yang terdiri dari dua aspek, yakni: aspek penyembuhan (therapeutics) dan aspek metodis. Dengan aspek penyembuhan, kekacauan yang ada pada bahasa filsafat dapat diatasi. Aspek metodis juga sebenarnya berfungsi untuk menghilangkan kekacauan tersebut dengan cara sebagai berikut;
• Mecoba meneliti dan membedakan aturan-aturan dalam permainan bahasa dengan bertitik tolak pada pengalaman sehari-hari.
• Mencoba menjelaskan kembali realitas dengan menggunakan istilah atau ungkapan yang sesuai sehingga tidak terjadi kesalahpahaman. Akan tetapi dengan ini bukan bermaksud membuat suatu pernyataan yang baru, melainkan mencoba manyusun kembali apa yang telah diketahui atau sesuai dengan realitas yang sebenarnya.
• Dalam analisa bahasa, bahasa harus bersifat netral dan memaparkan apa adanya atau sesuai dengan realitas.

V. Penutup
Dua buah karya dari Wittgenstein telah menjadi sumber inspirasi bagi dua aliran filsafat yakni Noe-Positivisme dan Analisa Bahasa. Wittgenstein telah mengajarkan bahwa filsafat itu sebenarnya bukanlah sebuah ajaran melainkan lebih pada sebuah kegiatan. Filsafat juga harus berpegang pada sebuah prinsip yakni; jangan kita tanyakan makna melainkan tanyakan bagaiman kita menggunakan bahasa. Bagi beberapa orang yang menggeluti ajaran Wittgenstein mengatakan bahwa dengan analisa bahasa kita dapat mengetahui bagaimana bahasa itu dapat secara konkret dipakai. Analisa bahasa yang digunakan oleh Wittgenstein terlebih untuk mengetahui pikiran manusia. Jadi filsafat harus bertanya terus-menerus sehingga bisa mengajak orang untuk berpikir.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar