Sabtu, 21 Mei 2011

KISAH...

Kisah Kelabu
Dari Bumi Lorosa’e
(Oleh: Fr. Erick M. Sila)

Di suatu malam yang sepi, gelap, dingin mencekam kalbu, aku menyandarkan diri pada sebatang pohon di tengah taman kecil di depan kamarku. Ketika itu yang terdengar hanyalah lolongan anjing dari kampung sebelah.
Sementara nyanyian para jangkrik di sekitarku pun tiada hentinya menghiburku. Mereka seakan mengerti dengan apa yang aku rasakan pada saat itu.. Kepada mereka ingin aku ceritakan tragedi dua belas tahun lalu yang membuatku kehilangan segalanya.
Ya… sore itu, langit tampak gelap padahal musim kemarau masi sepenggal saja berlangsung. Ketika itu sang mentari sudah hampir tenggelam di ufuk barat. Langit yang hampir gelap itu digarisi dengan warna-warna redup dan angin sore yang kering menggigilkan menghinggapi bumi Lorosa’e.
Sore itu seluruh keluarga telah berkumpul di rumah termasuk kakek dan nenek. Ketika itu, di ujung kampung mulai terdengar bunyi letusan dan rentetan senjata membisingkan telinga. Saat mendengar letusan yang amat dasyat itu, kami semua meniarap ketakutan di lantai, di balik tumpukan karung yang berisi penuh padi dan jagung. Dengan penuh ketakutan ibu mendekapku dan kakak erat-erat agar kami tidak mendengar suara rentetan tembakan itu. Aku memandangi wajah ibuku yang pucat, dingin dan gemetar tanpa sekatapun terucap. Saat itu ingin aku katakan kepada ibu “aku takut”, tetapi apabila terdengar dari luar, konsekuensinya adalah hidup atau mati. Sang ibu seakan mengerti tentang apa yang ingin aku katakan saat itu. Ibu membalas tatapanku dengan mengusap-usap kepalaku tanda memberi kekuatan.
Sementara sang ayah bersama abangku siaga di balik pintu, masing-masing dengan sebuah samurai panjang di tangannya. Mereka siap membabat habis siapa saja yang mau menerobos masuk dengan paksa. Malam itu terasa amat panjang, mendebarkan dan menakutkan.
Keesokan harinya keadaan semakin memanas. Pasukan pro kemerdekaan Timor Leste atau fretelin dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) saling mengadu kekuatan sehingga yang menjadi korban adalah rakyat biasa yang tidak tahu apa-apa.
Dengan terpaksa kami harus meninggalkan harta benda, rumah dan segalanya yang telah kami bangun bertahun-tahun dan kini harus ditinggalkan begitu saja. Hanya dengan pakaian di badan dan makanan secukupnya, kami lari tanpa tujuan yang pasti. Jalan satu-satunya yang paling aman adalah menuju ke hutan.
Maka dengan langkah penuh siaga kami menyusuri sebuah anak sungai yang tadinya jernih berkilauan kini berubah menjadi merah penuh darah. Melihat hal itu, kami hanya terdiam, Oh, Tuhan, kapan semua ini berakhir?
Tanpa banyak kata kami melewati anak sungai itu, melewati pepohonan hutan dengan batu-batunya yang tajam dan terjal dengan penuh hati-hati. Akhirnya kami sampai pada sebuah bukit di mana dari bukit itu nampak rumah dan kampung halamanku dengan jelas.
Dari kejauhan suara tangisan penduduk terdengar histeris. Sementara langit bumi Lorosa’e yang tadinya biru cemerlang, kini dihiasi dengan asap hitam tebal bercampur debu. Tiba-tiba dari puncak bukit itu kami melihat segerombolan pasukan pemberontak bergerak menuju ke kampung tempat rumahku berada. Mereka membakar habis semua rumah penduduk termasuk rumah kami. Melihat kejadian tersebut, ibuku tiba-tiba pingsan. Ibuku tidak rela melihat rumah kami yang tadinya berdiri kokoh kini harus rata dengan tanah dilahap si jago merah dalam hitungan menit. Kami semua panik, tidak tahu apa yang harus kami lakukan saat itu. Jalan satu-satunya adalah berdoa memohon kekuatan dari Tuhan agar semua ini cepat berlalu.
Beberapa menit kemudian ibuku sadar dari pingsannya. Wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang dingin dan lemah membuatku semakin sedih melihat keadaannya. Namun dalam kesedihan itu, aku mencoba menenangkan dan menguatkan ibuku bahwa semua ini bukanlah rencana kita, semua ini pasti berlalu. Yang jelas kita harus mencari jalan agar keluar dari tempat ini. Ibuku menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Senja berlalu malam hari pun tiba, akhirnya kami melangkah menuju ke sebuah lembah di sebelah bukit itu. Tempat ini sangat aman karena dikelilingi oleh beberapa bukit batu yang terjal dan curam. Di tempat inilah kami berlindung.
Jam telah menunjukkan pukul 22.00 WITA dan perut kami mulai terasa lapar. Ayah dan kakek membuat sebuah lubang di tanah sebagai tungku untuk memasak. Hal ini dilakukan untuk menghindari agar cahaya api tidak terlihat oleh pasukan pemberontak. Jika tidak demikian, bisa berbahaya bagi kami semua. Kami mulai makan dan tidak lupa juga menyisihkan untuk pagi dan siang. Kami takut karena apabila menghidupkan api pada siang hari akan menimbulkan asap dan dengan demikian tempat persembunyian kami dapat tercium oleh para pemberontak yang haus akan darah.
Seminggu berlalu, persediaan makanan yang kami bawa dari rumah akhirnya habis. Maka untuk mengisi perut kami selama sebulan lebih di lembah hutan itu, kami memanfaatkan umbi-umbian, pisang dan kelapa dari ladang orang lain yang ada di sekitar situ.
Melihat persediaan makanan yang sudah semakin sulit diperoleh, maka ayah teringat akan beberapa karung beras dan jagung yang ia kuburkan di samping rumah kami dua hari sebelum peristiwa itu. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kampung halaman untuk mengambilnya, tetapi ibuku tidak setuju atas keputusan ayah tersebut. Ibuku mengatakan bahwa “lebih baik mati kelaparan daripada mati di tangan para pemberontak yang tidak bertanggung jawab”. Namun ayahku tetap berkeras hati untuk pergi.
Matahari hampir tenggelam di ufuk barat dan aku melihat ayahku mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatannya. Maka ayahpun berangkat. Namun sebelum pergi ayah berpesan kepada kakek untuk menjaga kami dan ibu. Kalimat terakhir dari ayah kepada kakek dan ibu sebelum ia berangat adalah “kalian harus menunggu saya sampai saya kembali tetapi, jika terjadi sesuatu dengan saya kalian tidak boleh menunggu lama; kalian harus segera kekuar dari sini”. Aku melihat ibuku menagis, ia tidak mau ayah pergi. Tetapi ayah mengatakan bahwa apabila kita lapar, kita tidak bisa lari dari hutan yang luas ini. Akhirnya malam itu ayah pun pergi.
Hari berganti hari minggu berganti minggu, tidak terdengar kabar apa pun dari ayah. Jangan-jangan ayah sudah mati? pikiranku semakin tidak karuan. Huuuft…. aku menarik napas dalam-dalam sambil memohon kepada Tuhan agar ayahku pulang dengan selamat.
Pada suatu hari, kami dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang muncul dengan tiba-tiba. Ternyata ia adalah bapak Jhon tetangga kami. Untunglah senapan tumbuk yang diarahkan kakek kepadanya belum sempat di tarik bedilnya. Maksud kedatangannya adalah ingin menceritakan tentang keberadaan ayahku sekarang. Bapak jhon adalah saksi mata yang menyaksikan secara langsung peristiwa itu.
Bapak Jhon pun mulai bercerita. Pertama ia melihat ayahku melangkan pelan menuju ke arah rumah kami, ia terkejut dengan keadaan kampung yang tidak jelas. Rumah kami yang tadinya berdiri kokoh kini tidak ada lagi. Dengan wajah yang sedih, ia mencari-cari sesuatu. Setelah menemukannya, ia pun mulai menggali. Ketika ia mulai menggali, tiba-tida terdengar bunyi,, Doooooorrrr…., Doooorrr… dua buah peluru pemberontak mengenai dada dan kepalanya. Ia mati seketika. Kemudian, oleh para pemberontak ia dilemparkan ke dalam sebuah sumur di dekat rumah. Demikianlah kisahnya.
Mendengar berita itu, ibuku sesak napas dan tiba-tiba pingsan lagi. Kami semua menagis dan tidak tahu berbuat apa. Saat itu aku ingin berteriak tetapi tidak bisa. Suasana diselimuti duka yang mendalam, hanya pasrah, berdoa dan berharap kepada Tuhan. Sekarang aku tidak punya ayah lagi. Harapan kami satu-satunya adalah kakek dan nenek. Mereka masih cukup kuat untuk menjaga kami.
Sejak peristiwa itu, kondisi ibu semakin parah. Ia sering sesak napas, batuk dan bahkan sampai pingsan hingga beberapa menit. Kita tidak boleh tinggal diam kata kekek. Kita harus segera pergi dari sini. Maka kesesokan harinya kami mulai mencari jalan keluar. Dengan langkah tertatih-tatih kami menyusuri lembah, sungai dan gunung, akhirnya kami menemukan sebuah jalan tikus. Akhirnya kami sampai pada sebuah desa yang bernama desa Baki Tolas. Desa Baki Tolas adalah sebuah desa di Timor Barat yang masi termasuk wilayah Indonesia saat ini. Kami semua tiba dengan selamat.
Walaupun kami tiba dengan selamat dan berjumpa dengan keluarga besar di sana, tetapi rasa duka atas kematian ayah tercinta masi terasa kuat di dada terutama oleh sang ibu. Karena trauma atas peristiwa itu, kondisi kesehatan ibu pun semakin parah. Segala usaha telah kami lakukan demi kesembuhan ibuku, tetapi sepertinya sia-sia. Maka peristiwa duka kami memuncak ketika beberapa minggu kemudian. Ibu tercinta pun akhirnya pergi meninggalkan kami semua untuk selama-lamanya. Sekarang aku tidak punya siapa-siapa, kemana aku harus pergi?????
Dalam kesedihan dan pergumulan batin yang begitu mendalam, tiba-tiba aku dikejutkan oleh seorang frater. Eh.. kamu ngapain di sini, Belum tidur ya? Sudah jam 02.15 sekarang, tidurlah! Nanti besok terlambat misa. Ia frater.. jawabku singkat. Lalu dengan langkah pelan aku melangkah menuju kamarku.
Apakah semua ini harus berakhir sampai di sini? Tidak. Masi ada masa depan yang telah direncanakan Allah untuk kita. Yesus telah wafat dan bangkit bagiku. Ia telah membebaskan aku dari kesedihan, rasa duka yang mendalam dan kini ia mengenakan padaku suatu sukacita yang tak terhingga. Allahku segalanya, “Deus Meus et Omnia”.

(Cerita ini adalah kisah nyata yang dialami oleh: Fr. Jacinto Elu, OFMConv)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar