Rabu, 05 Oktober 2011

ARTI DAN FUNGSI-FUNGSI MANAJEMEN

I. Arti Manajemen Bila kita mempelajari literatur manajemen, maka kita akan nampak bahwa istilah manajemen mengandung tiga pengertian, yaitu: pertama, manejemen sebagai suatu proses; kedua manejeman sebagai kolektivitas orang-orang yang melakukan akrivitas menajemen dan ketiga, manajemen sebagai suatu seni (suatu art) dan sebagai suatu ilmu. Menurut pengertian yang pertama, yakni manajemen sebagai suatu proses, benda-benda defenisi yang diberikan oleh para ahli. Maka kita menemukan tiga buah defenisi: Dalam Encylopedia of the social sciences dikatakan bahwa manajemen adalah suatu proses dengan proses mana pelaksanaan suatu tujuan tertentu diselenggarakan dan diawasi. Selanjutnya Haimann mengatakan bahwa manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan bersama. Akhirnya George R. Terry mengatakan bahwa manajemen adalah pencapaian tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan mempergunakan kegiatan orang lain. Jika kita memperhatikan tiga defenisi di atas, maka akan segera nampak bahwa ada tiga pokok penting dalam defenisi-defenisi tersebut: pertama, ada tujuan yang mau dicapai; kedua, tujuan yang dicapai mempergunakan kegiatan orang lain; ketiga, kegiatan orang lain harus dibimbing dan dihayati. Menurut pengertia kedua, manajemen adalah kolektifitas adalah orang-orang yang melakukan aktivitas manajeman. Jadi dengan kata lain, segenap orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen dalam suatu badan tertentu disebut manajemen. Dalam arti singular disebut Manajer. Yang dimaksud dengan aktivitas manajemen adalah kegiatan-kegiatan atau fungsi-fungsi yang dilakukan oleh setiap manajer. Kegiatan itu pada umumnya seperti: organizing, staffing, directing dan controling. Menurut pengertian ketiga, manajemen itu adalah suatu seni atau suatu ilmu. Pengertian ini dikemukakan juga oleh Chester I Bernard dalam bukunya “ The function of the executive” yang mengakui manajemen sebagai “seni” dan juga sebagai “ilmu” dan juga beberapa ahli lain seperti: Henry Fayol dan Alfin Brown Harold Koontz. Mereka beranggapan bahwa manejemen sekaligus ilmu dan seni. Manajemen sebagai seni berfungsi untuk mencapai tujuan yang nyata mendatangkan hasil atau manfaat, sedangkan manajemen sebagai ilmu berfungsi untuk menerangkan fenomena-fenomena, kejadian-kejadian, keadaan-keadaan. Jadi memberikan penjelasan yang akurat. Unsur keilmuan merupakan kumpulan pengetahuan yang tertentu seperti yang dinyatakanb oleh peraturan-peraturan atau pandangan-pandangan umum yang dipertahankan oleh berbagai tingakat ujian-ujian dan penyelidikan-penyelidikan. Sedangkan unsur seni merupakan pemakaian pengetahuan tersebut pada situasi tertentu II Fungsi-fungsi manajemen Menurut 13 ahli, pada hakekatnya fungsi-fungsi manajemen di kombinasikan menjadi 10 bagian: Forecasting, planning termasuk budgeting, organizing, stffing, directing/commanding, leading, coordinating, motivating, controling dan reporting. 1. Forecasting forecasting adalah kegiatan meramalkan, memproyeksikan atau mengadakan taksiran terhadap berbagai kemungkinan yang akan terjadi sebelum suatu rencana yang lebih pasti dilakukan 2. Planning termasuk budgeting Merupakan perumusan tujuan yang ingin dicapai oleh suatu organisasi, menetapkan peraturan-peraturan dan pedoman-pedoman pelaksanaan tugas, menetapkan urutan-urutan pelaksanaan yang harus di turut, menetapkan iktisiar biaya yang diperlukan dan pemasukan uang yang diharapkan akan diperoleh dan rangkaian tindakan yang akan dilakukan di masa mendatang. 3. Organizing Dengan organizing, pengelompokan suatu kegiatan yang diperlukan yakni penetapan susunan organisasi serta tugas dan fungsi-fungsi dari setiap unit yang ada dalam organisasi, serta menetapkan kedudukan dan sifat dari masing-masing unit tersebut. 4. Staffing Staffing merupakan satu fungsi manajemen berupa penyusunan personalia pada satu organisasi sejak dari merekrut tenaga kerja, pengembangannya sampai pada usaha agar stiap petugas memberi daya guna maksimal kepada organisasi. 5. Directing Directing adalah fungsi manajemen Yng berkaitan dengan usaha menberi bimbingan, saran-sarana atau isntruksi kepada bawahan agar agas tugas dapat dilaksanakan dengan baik. 6. Leading Fungsi manajemen ini dirumuskan sebagai pekerjaan yang dilakukan oleh seorang manajer yang menyebabkan orang lain bertindak. Seperti pengambilan keputusan, mengadakan komunikasi antara manjajer dan bawahan dan memberi semangat kepada bawahan. 7. Coordinating fungsinya ialah mengkoordinasi agar tidak terjadi kekacauan, percecokan, kekosongan kegiatan dengan jalan menghubung-hubungkan atau menyelaraskan pekerjaan bawahan agar terjadi kerjasama dalam mencapai tujuan 8. Motivating Maksud dari poin ini ialah pemberian motivasi atau inspirasi, semangat dan dorongan kepada bawahan agar melakukan kegiatan secara sukarela sesuai apa yang dikendaki atasan 9. Controlling Pengawasan terhadap bawahan agar dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan maksud tercapai tujuan yang sudah digariskan semula atau sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan serta tujuan yang ingin dicapai. 10. Reporting Fungsi manajemen yang berupa penyampaian perkembangan atau hasil kegiatan atau pemberian keterangan mengenai segala hal yang bertalian dengan tugas-tugas dan fungsi-fungsi kepada pejabat yang lebih tinggi baik secara lisan maupun tulisan agar orang yang menerima laporan dapat memperoleh gambaran tentang pelaksanaan tugas orang ya memberi laporan.

FILSAFAT TIMUR: TEMA-TEMA PENTING DALAM HINDUISME

OLEH: ERICK SILA, EFEN NDRURU, FLORY MARUNG 1. Pendahuluan Sebuah agama lahir dari perjumpaan dengan yang kudus. Di dalam perjumpaan itu, manusia membiarkan diri disapa dan disentuh oleh yang kudus dan dimampukan untuk menjawab sentuhan kasih-Nya. Rudolf Otto mengartikan “yang kudus”, sebagai sesuatu yang sulit dimasuki, sebab tersembunyi di dalam jiwa kita. Perjumpaan itu terkristalisasi dalam penghayatan hidup beragama pada tradisi kebudayaan masing-masing. Tradisi itu diwariskan turun-temurun, sehingga akhirnya menjadi patokan dalam kehidupan bermasyarakat. Patokan ini tentu bukan hanya berhenti pada tataran aturan, hukum tetapi sungguh dihayati dan dipercayai sebagai “yang kudus”. Penghayatan akan “yang kudus”, dapat kita temukan dalam Hinduisme yang berakar pada tradisi dan sejarah bangsa India. Mereka meyakini bahwa dunia ini tidak diciptakan satu kali untuk selamanya, tetapi melalui evolusi yang terus menerus. Oleh karena itu, agama Hindu meyakini akan adanya reinkarnasi jiwa, melalui cara hidup yang benar dengan amal kepada sesama dan bhakti kepada Allah dan sesama. Adapun tema-tema penting yang menjadi bahan pembahasan dalam paper ini adalah pandangan Hinduisme tentang dunia, reinkarnasi jiwa, tujuan hidup, sistem sosial kasta, ajaran eskatologis serta bhakti dan rahmat ilahi. Maka untuk lebih memahami secara lebih mendalam tentang beberapa tema penting yang telah dikatakan sebelumya, kelompok akan menguraikannya secara umum. 2. Tema-tema Penting dalam Hinduisme 2.1. Padangan tentang dunia Filsafat Hinduisme berpandangan siklis tentang dunia, waktu dan sejarah. Mereka percaya bahwa dunia tidak diciptakan satu kali untuk selamanya melalui evolusi linear sampai kepada penutupan defenitif dari sejarah dengan peristiwa akhir jaman, tetapi dunia ini harus berproses secara terus menerus, dari ciptaan, pemeliharaan dan penghancuran. Dalam siklis ini tidak terdapat awal dan akhir yang dapat diramalkan. Hal ini berkaitan dengan jiwa-jiwa yang bereinkarnasi yang mencari sarana-sarana untuk mengelak karma dan memperoleh kebebasan abadi (moksa). Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa, penghancuran dunia alam adalah suatu ekspresi belas kasih Allah terhadap jiwa-jiwa yang miskin, yang masih harus meneruskan suatu putaran yang lelah, untuk memberikan mereka suatu periode istrahat yang total. Ketika itu, sesungguhnya dunia diperkecil ke posisi awalnya, tanpa wujud dalam Allah. Penciptaan itu tidak lain daripada aksi Allah yang mengantar manusia dari status implisit ke eksplisit. Dalam hal ini tidak dibicarakan secara konseptual tentang penciptaan dari “ex nihilo”, karena mereka mengatakan “ex nihilo, nihil fit”. Menurut pamahaman orang Kristen, jika ciptaan itu bukan suatu “ex nihilo” maka ini berati ada sesuatu di luar Allah; itu berarti bahwa ada dua sumber dunia, yakni Allah dan “sesuatu” itu, dalam hal ini lebih bersifat atau politeis (sekurang-kurangnya ada dua sumber ilahi) atau panteistik (semuanya menjadi Allah) dan tidak lagi monoteistik. Karena itu tidak bisa dibicarakan tentang penciptaan, melainkan hanya sebuah produksi atau pembentukan. Menurut Raymundus Panikkar, bahwa pandangan tentang “ex nihilo” dalam agama Hindu mempunyai kecenderungan pada politeisme atau panteisme, tetapi harus diterima juga bahwa orang Hindu berpikir tentang suatu penciptaan untuk Allah, tidak dilihat soal fisik asal mula ciptaan dunia, tetapi bahwa semuanya ini adalah untuk Allah. Mereka tidak mempersoalkan bahwa Allah menciptakan dunia dari substansinya sendiri, seperti causa material-nya, tetapi bahwa dunia ini berasal dari Allah, berada di dalamnya dan terus berada untuknya dan di dalam-nya. Allah dan dunia dua kutub yang berbeda dan tidak sama dari sebuah realitas yang satu dan sama. Dunia ini adalah wujud penampakkan Allah dan Allah sendiri adalah realitasnya. Menurut mitologi Hindu, alam adalah sebuah Tribhuvana atau Trailokya atau (tiga dunia) di dalam bagian sentralnya adalah bumi, bagian superior adalah langit dan bagian inferior disebut Patala. Patala adalah tempat kebesaran dan kemuliaan hidup bagi para jin dan setan. Di bawah ini dari patala, ada neraka di mana orang-orang mati membayar denda dan kesalahan mereka, kemudian mereka be-reinkarnasi ke dalam dunia sebagai manusia atau binatang, menurut karma dari setiap orang. Hukuman neraka itu tidak bersifat abadi tetapi temporal. Seluruh bagian dunia yang lain, entah inferior atau superior adalah tempat pembayaran, penghargaan atau hukuman, sementara bumi adalah tempat berkarya. Inilah satu-satunya tempat dimana orang bisa mengurangi karma dengan menanam jasa, memurnikan diri. Di dunia yang lain, jiwa hanya berbahagia atau menderita seturut kasusnya, untuk kemudian pulang kembali secara baru di atas bumi untuk melanjutkan siklus kehidupannya. Hanya di atas bumi, jiwa yang bereinkarnaisi dalam rupa manusia, dapat berusaha sekuat tenaga demi pembebasannya (moksa), sementara jiwa yang bereinkarnasi dalam bentuk Subhuman, jiwa hanya menebus secara pasif sebagian kecil dari karma-nya. 2.2. Manusia dan Reinkarnasi Jiwa Konsep manusia dalam agama Hindu didasarkan atas dasar keyakinan adanya reinkarnasi jiwa. Manusia secara esensial adalah jiwa yang berbadan. Dalam hal ini terjadi dualisme yakni tubuh dilihat sebagai penjara bagi jiwa. Badan terdiri dari materi, temporal, dan dapat hancur sedangkan jiwa adalah bagian yang tetap dari manusia, sifatnya rohani, murni dan tidak bercela. Jiwa sebagai asas yang lebih tinggi tidak turut aktif dalam pergumulan hidup ini sehingga hal-hal yang jahat tidak merupakan bagian yang nyata dari jiwa. Dalam perjalanan hidup manusia, jiwa kehilangan kemurnian aslinya melalui egoisme dan keinginan-keinginan daging yang menggelapkan jiwa. Jiwa cenderung memikirkan kenikmatan-kenikmatan psiko-fisik belaka daripada hal-hal yang transenden. Jiwa itu bersifat kekal dan penuh kebahagiaan. Akan tetapi, ketika jiwa bertemu dengan benda-benda maka jiwa menderita kesengsaraan dan harus mengalami kelahiran kembali atau reinkarnasi. Bhagavad Gita mengatakan bahwa: “Sebagaimana manusia menanggalkan pakaian lamanya dan mengenakan pakaian yang baru, demikian pula jiwa menanggalkan tubuhnya yang lama dan masuk ke dalam tubuhnya yang baru”. Ajaran tentang Karma-Samsara Karma adalah hukuman atau ganjaran yang keras terhadap segala perbuatan yang baik maupun yang jahat yang dilakukan oleh seseorang. Jadi apa yang dilakukan manusia, yang baik maupun yang jahat pada masa lalu sangat menentukan kelahiran kembali jiwa saat ini. Oleh karena itu, setiap orang Hindu berusaha menghindari efek hukum karma pada kelahiran berikutnya dengan melakukan perbuatan amal dan hidup sesuai dengan ajaran yang benar. Samsara secara harafia berarti arus, aliran, atau peralihan. Jadi, kehidupan manusia tidak hanya terbatas pada kelahiran dan kematian saja melainkan kehidupan itu suatu samsara atau perjalanan. Samsara merupakan pengembaraan jiwa dari satu tubuh kepada tubuh yang lain, dari kelahiran, kehidupan dan kematian. Peralihan jiwa ini selalu bergantung pada hukum karma. Untuk mencapai semua ganjaran itu, maka harus sampai kepada keharusan reinkarnasi jiwa, yakni kepercayaan akan suatu peralihan jiwa setelah kematian. Dalam filsafat Hindu, reinkarnasi terjadi karena jiwa harus menanggung hasil perbutan yang dilakukan sebelumnya. Dikatakan bahwa sebelum jiwa memulai eksistensinya di dunia ini, ia telah hidup sebelumnya di tempat lain. Maka kehidupan saat ini akan tersimpan dalam tubuh yang disebut tubuh halus tipis yang pada akhirnya akan berpengaruh pada kehidupan yang akan datang. Para teolog Hindu membedakan dua jenis tubuh yakni tubuh halus-tipis dan tubuh kasar. Tubuh halus-tipis meliputi unsur-unsur kejiwaan, psike dan perasaan, sedangkan tubuh kasar adalah tubuh yang terdiri dari materi, dapat dilihat yakni danging dan tulang. Tubuh halus-tipis berfungsi sebagai ikatan antara jiwa spiritual dengan tubuh kasar. Maka segala perbuatan yang baik maupun yang jahat akan tersimpan pada tubuh halus-kasar yang kemudia akan diadili seturut hukum karma. Pada saat reinkarnasi, jiwa tetap hidup sedangkan tubuh kasar akan menjadi rusak, sehingga jiwa harus berpindah ke badan yang baru untuk menikmati hasil perbuatanya. Kebahagiaan dan penderitaan adalah hasil dari perbuatan sebelumnya. Orang Hindu meyakini bahwa mereka akan lahir kembali sebanyak 8.400.000 kali sebelum jiwanya selamat dari perangkap samsara. Reinkarnasi dan Kekristenan Kepercayaan dan keyakinan akan reinkarnasi jiwa dalam agama Hindu sangat sulit diperdamaikan dengan iman kristen. Hal ini dapat dilihat dari beberapa hal berikut: • Visi biblis tentang waktu dan sejarah Mengenai waktu dan sejarah, orang Hindu berpandangan bahwa semuanya itu berlangsung dalam sebuah siklus yang abadi, sedangkan Kitab Suci agama Kristen menekankan akan kesatuan karya Allah dan itu tidak dapat diulangi dalam sejarah. “Seperti Yesus hanya satu kali dikorbankan, demikian orang-orang hanya satu kali mati lalu diadili” (Ibr 9:27). Oleh karena itu, setiap orang harus berusaha melalui perkataan dan perbuatannya untuk memperoleh keselamatan. Sementara untuk agama Hindu melalui konsep waktu memberikan kesan yang lamban atau lama. Oleh karena itu, kemalasan untuk bertindak saat ini terkesan lamban sebab waktu yang diberikan sangat lama. • Konsep Kristen tentang kesatuan jiwa dan tubuh Konsep mengenai reinkarnasi jiwa mengimpilikasikan dualisme ekstrim antara jiwa dan tubuh. Tubuh dilihat sebagai penjara bagi jiwa. Sementara orang Kristen mengatakan bahwa jiwa dan tubuh membentuk satu kesatuan yang esensial, jiwa adalah substansi dari tubuh. Dalam diri manusia ada dua dimensi yaitu “Spirit an Matter”. Oleh karena itu, tubuh akan dibangkitkan dalam kemuliaan pada akhir zaman. • Perbedaan antara hukum karma dan hukum rahmat Konsep mengenai hukum karma, orang Hindu meyakini akan adanya suatu kekuatan untuk memperoleh keselamatan melalui kekuatan manusia, sedangkan orang Kristen mengatakan bahwa persekutuan yang mesra antara Allah dan manusia merupakan suatu hadiah gratis dari Allah. Menurut iman Kristiani tidak penting mengenai lamanya waktu, hidup lama atau pendek, sebab keselamatan bukan tergantung dari panjangnya umur melainkan secara khusus dari kesediaan dan keterbukaan terhadap cinta yang menyelamatkan dari Yesus Kristus. Dalam hal ini, kita ingat saja penjahat yang bertobat ketika ia disalibkan bersama Yesus di puncak bukit Golgota. Ia berkata kepada Yesus “Ingatlah akan daku ketika Engkau berada di dalam kemuliaan kerajaan-Mu”. Jawaban Yesus kepada penjahat tersebut sungguh memberikan jaminan keselamatan kepadanya “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu hari ini juga engkau akan berada di dalam kerajaan-Ku” (Luk 23, 42-45). 2.3. Tujuan-Tujuan Hidup Aturan kehidupan Hindu mencakup seluruh aspek kehidupan manusia baik secara individu maupun secara sosial dan umum. Perjalanan hidup manusia diarahkan kepada empat tujuan umum yang disebut Purusartha (yang berarti tujuan hidup seorang persona), yaitu dharma, artha, kama, dan moksa. Fakta bahwa manusia terdiri dari jiwa dan tubuh membuat ia harus berusaha memenuhi keinginan jiwa dan tubuh. Manusia membutuhkan sarana-sarana material (artha), untuk menyenangkan psiko-fisiknya (kama). Perolehan kekayaan material dan pemuasan kesenangan dan keinginan (kama), harus berdasarkan norma-norma moral (dharma) untuk kemudian memperoleh kebaikan tertinggi atau kebahagiaan tertinggi, yakni pembebasan sejati (moksa). 2.3.1. Dharma Dharma berasal dari kata dhr yang berarti menyokong, menahan, dan memegang. Dharma berarti apa yang menyokong dan yang mempertahankan tata tertib alam masyarakat dan individu. Menurut Epos Mahabharata, dharma menunjuk kepatuhan kepada nilai-nilai moral, seperti non kekerasan (ahimsa), ketulusan hati (satyam), tidak mencuri (asteya), kemurnian (sauca), kontrol atas indera (indriyanigraha), pengampunan (ksama), kontrol diri (dama), tidak marah (akrodha), sabar (dhrti), pengetahuan akan tulisan-tulisan suci (sastra). 2.3.2. Artha Artha adalah kekayaan material yang perlu untuk hidup. Kekayaan material memberikan keyakinan dan kekuatan untuk tugas-tugas rohani. Sesungguhnya, kehidupan spiritual akan bertumbuh kalau orang mulai bebas dari kesibukan untuk mencari nafkah. Kemiskinan adalah suatu kutukan yang lebih buruk dari kematian dan ketiadaan uang adalah akar dari setiap kejahatan. 2.3.3. Kama (Kesenangan-Kesenangan Hidup) Kama adalah kesenangan dan kenikmatan psiko fisik melalui indera-indera ekstern, khususnya indera-indera seksual. Namun, sebagai tujuan dari eksistensi manusia, kama meliputi seluruh kesenangan dan kenikmatan emosi, perasaan estetis, dan kesenangan berolahraga. Kesenangan emosional itu tidak dianggap sebagai sesuatu yang negatif, tetapi sesuatu yang positif untuk diperoleh, yaitu melalui dharma. 2.3.4. Moksa (Pembebasan Abadi) Moksa adalah akhir dari samsara, pengembaraan jiwa-dan merupakan tujuan setiap orang Hindu. Spritualitas Hindu pertama-tama tertuju pada yang membawa jiwa manusia pada “pantai yang lain” dengan kata lain. pengajaran untuk dapat menemukan pembebasan dari kelahiran kembali. Moksa juga dapat diartikan sebagai kebaikan tertinggi, yang direalisasikan dalam suatu kehidupan yang teratur sesuai dengan nilai-nilai yang harmonis antara dharma, artha, dan kama. Hadiah dari suatu kehidupan teratur baik seperti itu adalah moksa, suatu status di mana secara sempurna jiwa dibebaskan dari ikatan reinkarnasi, dari kehidupan yang tak sempurna ini dan memperoleh kebahagiaan dan keselamatan abadi. 2.4. Sistem Sosial- Kasta Sistem sosial-kasta muncul pada zaman Brahmana. Menurut para ahli, bangsa Arya masuk India sudah mengenal kasta, yaitu golongan imam, prajurit, dan pekerja. Kemudian sesudah bangsa Arya memperkenalkan bangsa pribumi India masuk ke dalamnya, sehingga terbentuklah golongan Sudra. Sistem kasta adalah ciri khas masyarakat Hindu di India yang diwakili kelompok-kelompok sosial yang dianggap sebagai suatu lembaga religius, diatur secara hierarkis, dengan aturan dan tradisi-tradisi yang khusus. Perbedaan kelas dalam masyarakat pada awalnya merupakan suatu perkembangan biasa di dalam masyarakat karena bakat, nasib dan kondisi yang berbeda-beda dari masyarakat itu sendiri. Kemudian perbedaan-perbedaan pekerjaan itu dikembangkan secara hierarkis supaya terjadi harmoni di dalam masyarakat. Empat kelas utama dalam masyarakat India dibagi dalam empat golongan adalah sebagai berikut. 2.4.1. Kelas Brahmana Kelas Brahmana adalah golongan masyarakat yang setiap orangnya memiliki pengetahuan suci dan mempunyai kemampuan untuk kesejahteraan masyarakat, negara, serta umat manusia dengan jalan mengamalkan pengetahuannya dan dapat memimpin upacara keagamaan. Kaum Brahmana bertugas untuk belajar dan mengajar Kitab Veda dan mempersembahkan kurban. 2.4.2. Kelas Ksatrya Kelas Ksatrya adalah golongan masyarakat yang setiap orangnya memiliki kewibawaan, cinta tanah air, serta kemampuan untuk memimpin dan mempertahankan kesejahteraan masyarakat, negara, dan umat manusia. Kaum Ksatrya bertugas untuk melindungi masyarakat, bagi hadiah, upeti, gaji, dan belajar Veda. 2.4.3. Kelas Vaisya Kelas Vaisya adalah golongan masyarakat yang setiap orangnya memiliki watak tekun,terampil, hemat, cermat, dan keahlian, serta kemampuan untuk memelihara binatang, bertani, berdagang, belajar Veda. 2.4.4. Kelas Sudra Kelas Sudra adalah golongan masyarakat yang setiap orangnya memiliki kekuatan jasmaniah, ketaatan, serta kemampuan sebagai pelaku utama dalam tugas-tugas memakmurkan masyarakat, negara, dan umat manusia. Kaum Sudra bertugas untuk melayani secara rendah hati ketiga kasta di atas. Selain keempat kasta di atas, semua orang lain yang berada di luar kelompok-kelompok kasta masyarakat Hindu disebut kaum pancama (yang kelima). Kelompok ini terdiri dari semua anggota masyarakat Hindu yang dihukum atau dibuang oleh masyarakatnya karena pelanggaran-pelanggaran aturan dan kejahatannya. Termasuk dalam kelompok ini adalah orang asing dan penganut-penganut agama lain. Semua masyarakat ini tidak mengakui otoritas Veda dan tradisi-tradisi Hindu lainnya, bahkan mereka dianggap sebagai kelompok yang harus dihindari. 2.5. Bhakti dan rahmat ilahi 2.5.1. Bhakti Bhakti adalah ibadat penuh kasih untuk salah satu dewa. Tempat pemujaan keluarga yang dapat ditemukan di setiap rumah orang Hindu memiliki peranan yang sangat penting dalam bhakti karena di sanalah setiap orang Hindu melaksanakan puja, sebagai wujud devosi pribadi. Menyayikan lagu pujian, menyampaikan cerita dewa-dewi, drama religius, menari dan merayakan perayaan keagamaan semuanya ini merupakan unsur-unsur bhakti. Devosi cinta kepada Allah atau relasi cinta interpersonal yang intim antara Allah dan manusia, sedangkan yang ber-bakti disebut brakta. Cinta yang sempurna kepada Allah berarti mencintai Allah dengan segenap budi, hati, jiwa dan raga. Bhakti mengandung dua tingkatan yakni gauni-bhakti: bakti awal, bhakti persiapan sedangkan ekanta-bhakti atau para bhakti: cinta yang sempurna khusus kepada Allah. Dalam bakti awal, orang mendapat pendidikan displin dan latihan doa untuk lebih mencintai Allah. Dalam status ekanta-bhakti, orang seperti “mabuk” Allah. Ada kebahagiaan sempurna yang tak terkatakan karena orang cinta akan Allah. Allah dialami sebagai yang setia, tidak meninggalkannya lagi. Kemurnian antara cinta dan Allah itu dilukiskan seperti cinta murni seorang hamba kepada tuannya, seorang teman kepada temannya, seorang anak kepada orang tuannya, seorang pengantin wanita kepada pengantin prianya. Bhakti menyucikan dosa, menghapus utang-utang reinkarnasi masa lalu dan membuka kemungkinan yang besar untuk moksa. 2.5.2. Rahmat ilahi Rahmat Allah merupakan jawaban Allah terhadap manusia untuk melayani dan mencintainya. Rahmat Allah menolong agar bakti menjadi lebih berhasil sehingga akhirnya sampai kepada moksa. Rahmat itu tentu mengandaikan tanggung jawab, kebebasan dan kerjasama manusia. Allah tidak mentolerir kejahatan manusia, Allah pun tidak menentang mereka yang melaksanakannya. Dalam hal ini rahmat menghormati karma-samsara, bahkan menjadi suatu aspek rahmat, suatu sarana pemurnian yang mengantar jiwa kepada moksa. Ada dua aliran yang berbeda paham tentang rahmat, yakni aliran Vagadai dan aliran Tengalai. Aliran Vagadai mengatakan bahwa Allah mengandaikan kerja sama aktif manusia untuk memperoleh kebebasan jiwa, sedangkan aliran Tengalai mengatakan bahwa Allah akan berbuat segala macam cara demi pembebasan manusia. 3. Kesimpulan dan Refleksi Kepercayaan akan suatu realitas tertinggi merupakan hal yang hakiki bagi setiap orang yang percaya. Orang beriman kepada-Nya karena mereka yakin bahwa Dialah yang mengatasi dan melampaui segala sesuatu. Pada umumnya mereka melakukan ibadat dan memuji realitas tertinggi atau Yang Kudus itu. Agama Hindu yang berakar dan bertumbuh dalam sejarah bangsa india juga demikian. Dengan berbagai cara mereka mengungkapkan rasa hormat kepada Allah. Agama Hindu tidak memiliki otoritas sentral untuk mendefenisikan batas-batas ajaran imannya. Agama Hindu tidak pernah mempertahankan suatu keseragaman dalam ajaran dan disiplin. Pendekatan agama Hindu adalah pendekatan relatifistik yang disesuaikan dengan kapasitas dan perkembangan intelektual, moral, spiritual dan kultural masyarakat. Oleh karena itu, agama Hindu bukanlah sebuah agama monoteis sebab terdiri dari berbagai macam ajaran, sekte, sekolah, gerakan dan aliran. Walaupun demikian, agama Hindu memberikan beberapa hal penting yang dapat diterima secara umum. Agama Hindu mengajarkan beberapa unsur penting mengenai kepercayaan akan proses siklis dunia, dimana terjadi penciptaan, pemeliharaan dan penghancuran. Kepercayaan akan adanya reinkarnasi jiwa yang ditentukan oleh hukum sebab akibat karma-samsara, serta kepercayaan akan adanya pembebasan jiwa total (moksa) dari ikatan reinkarnasi. Selain itu, orang Hindu juga menunjukkan kepatuhan pada hukum kasta. Namun, hendaknya kepercayaan itu juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak baik hanya bersikap fanatik terhadap agama sendiri. Kebebasan beragama merupakan hak setiap orang. Iman harus diwujudkan dalam perbuatan, dan cinta kasih kepada sesama. Seseorang tidak dapat mencintai Allah, yang tidak kelihatan dengan mata, tanpa mencintai sesama yang jelas dan nyata ada di depan mata.

Minggu, 18 September 2011

CERPEN

Akhir Sebuah Penantian (Oleh: Erick M. Sila) Ketika aku terbangun dari tidur, ku dapati sang surya mulai terbenam di ufuk barat. Itu berarti bahwa sebentar lagi malam datang menjemput. Aku pun mulai beranjak dari peraduanku dan dengan langkah kecil aku menuju ke dapur. “Eh mama, lagi buat apa ma? Tanyaku kepada mama dengan nada sedikit menggoda”. “Eh, George, kok baru bangun…?”. “Ia ma, tadi terlambat pulang dari kampus”. Jawabku dengan suara kecil bercampur sisa kantuk. “Ow…, baiklah, bantu mama yuk persiapkan makan malam kita!”. “Okey ma, jawabku dengan nada penuh semangat”. Aku pun mulai membantu mama mempersiapkan segala sesuatu untuk makan malam nanti sampai tuntas. Setelah menyelesaikan tugas membantu mama di dapur, aku langsung mandi dan setelah itu aku langsung masuk kamar. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku saat itu. Tiba-tiba perasaanku diliputi kesedihan begitu dalam. Entah mengapa peristiwa satu tahun yang lalu muncul begitu jelas di kepalaku. Malam itu aku mencoba menuliskan tentang semua yang pernah terjadi di antara kami. Masih ku ingat semuanya. Siang itu sepulangnya dari kampus, Erlin menghampiri aku dan mengatakan bahwa ia akan pindak ke Yogyakarta bersama kedua orang tuanya dalam waktu dekat. Mendengar berita itu aku tersentak kaget dan dalam hati aku berpikir “Harus secepat inikah semuanya berlalu? Padahal ku baru saja mengenal Erlin tiga bulan yang lalu, itu berarti kami akan berpisah?”. Sehari setelah perjumpaan dengan Erlin itu, aku ternyata memiliki waktu senggang, dan karena cuacanya begitu cerah, aku meminta Erlin menjumpai aku di tempat di mana biasanya kami bertemu. Maka aku meminta Erlin menemui aku jam 16.00 sore. Akhirnya waktu yang telah disepakati antara aku dan Erlin pun tiba. Maka dengan sebuah kawasaki ninja RR, aku langsung meluncur ke sebuah taman di tengah kota Medan. “Erlin…!” “Eh… George”, balas Erlin. “Sudah lama menunggu?” Tanya ku kepada Erlin. “Ah, tidak, aku pun baru saja sampai”, lanjutnya. “Ooo.. baiklah kalau begitu”. Maka ku tuntun Erlin ke sebuah bangku di tepi sebuah kolam tepat di tengah-tengah taman itu. Dari tempat itu, melalui tirai dahan-dahan, di atas kabut tipis tampaklah sebuah bukit di seberang sana yang sangat menakjubkan. Keindahannya menggambarkan kemegahan kuasa Sang Pencipta. Tepatlah seperti yang dikatakan oleh pemasmur… “Langit menceritakan kemuliaan Allah dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar”. Yah… saat itu hanyalah rasa kagum, terdiam dan membisu. Dalam keheningan senja hari itu, aku hanya mampu memandangi dahi Erlin yang begitu indah, pandangan matanya yang jujur, rambutnya yang abu-abu dibiarkannya agak panjang, agak gelombag di dahi dan menutupi sebagian telinnganya. “Erlin….”. Aku memecah kesunyian di antara kami. “Ya…?”. “Kamu benar-benar akan pergi…?”. “Ia, George, bagaimanapun aku harus pergi. Ini semua demi aku dan kamu juga”. Aku lama terdiam. Sambil menarik nafas panjang aku berkata dengan lirih, “Erlin, sesungguhnya walau dengan berat hati, aku merelakan engkau pergi. Pergilah ke mana hati membawamu! Aku iklas kok. Namun aku yakin jika Tuhan berkehendak lain, kita pasti akan bersama-sama lagi”. “Ia, George…”. “Ada satu hal yang perlu kamu ketahui George”, Lanjut Erlin. “Apa itu…? Tanyaku penasaran”. “Semenjak pertama kali kita bertemu, tidak sesaatpun aku melupakanmu”. “Aku juga…” balasku dengan perasaan senag. “Ia George, semenjak aku mengenal kamu, aku merasah bahwa kamulah yang terbaik dari yang pernah aku jumpai dalam hidupku. Kamu sesalu hadir di saat aku membutuhkan bantuanmu. Segala yang baru dalam hidupku pasti ku lakukan bersamamu. Pokoknya sulit ku ungkapkan semuanya saat ini. Engkau begitu baik dan tulus kepadaku. Aku tidak bisah membalas semua kebaikanmu George saat ini, aku hanya memohon kiranya Tuhan yang akan membalas semuanya ini. “Erlin... jangan khawatir, Tuhan telah melihat semuanya dan Dialah yang akan membalas setiap perbuatan manusia yang baik maupun yang jahat”. Aku mencoba menguatkan hati Erlin walaupun dalam hati, aku pun merasakan kesedihan yang sama seperti yang dialami Erlin saat itu. Dua tahun berlalu aku dan Erlin hanya bisah berbagi cerita, canda dan tawa melalui surat dan telepon. Walaupun dipisahkan oleh jarak dan waktu kami selalu saling mendukung dan saling menguatkan di dalam doa. Pada suatu ketika, aku mendengar kabar dari salah seorang teman dekat Erlin bahwa besok ia akan diwisuda menjadi seorang sarjana muda jurusan sekretaris di sebuah universitas terkemuka di kota Yogyakarta. Mendengar berita itu aku merasa senang. Akan tetapi dalam kesenagan itu, aku bertanya-tanya dalam hatiku “mengapa kabar gembira ini harus aku dapatkan dari orang lain, ah, mungkin Erlin lagi sibuk dengan persiapan pestanya”. Aku mencoba menghilangkan segala pikiran itu dengan mencoba berpikir posetif. Keesokan harinya, aku menelepon Erlin untuk mengucapkan proficiat atas momen besar yang baru saja ia alami. Aku berpikir bahwa Erlin pasti sangat senang atas ucapan selamat dan surprise dariku saat itu. Namun apa yang terjadi? Ketika aku mencoba menghubunginya, terdengar suara lembut penuh wibawa dari seberang “nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi!”. Mulai saat itu, aku kehilangan kabar tentang keberadaan Erlin. Hari berganti, tahun pun berlalu. Akhirnya pada suatu hari aku di kejutkan dengan sebuah panggilan tak terduga. Ini adalah nomor baru yang sungguh tidak tersimpan sebagai anggota kontak dalam hand phoneku. “Apakah ini Erlin?”, tanyaku dalam hati. Ternyata dugaanku tidak salah. Malam itu, Erlin meneleponku dan mengatakan penyesalan yang begitu dalam atas segala perbuatan yang telah ia lakukan terhadapku. “George…”. “Ya…”, jawabku singkat. “Maafkan aku ya…?”, suaranya mulai terdengar agak berat menahan air mata. “Atas apa…?” tanyaku seolah-olah tidak tahu dengan persoalan yang telah terjadi. “Maafkan aku karena telah mengkhianati cinta yang telah bertahun-tahun kita bina bersama. Aku tidak bisah berbuat apa-apa saat itu. Kedua orang tuaku memaksaku untuk segera menikah dengan pria pilihan mereka. Aku telah membuatmu terluka George. Skali lagi maafkan aku”. Dari seberang sana suara tangisnya semakin terdengar memecah kesunyian malam itu. Saat itu, aku kehilangan seribu bahasa. Aku tidak tahu mau bilang apa saat itu. “Tapi George…”, Erlin melanjutkan lagi pembicaraannya sambil terisak. “Ya, kenapa Erlin…?”. “Aku sunguh menyesal atas pernikahan itu George. Aku tidak bahagia bersamanya. Aku ingin kembali kepadamu George. Aku sadar telah menyakiti hati kamu. Maukah kamu menerima aku kembali George?”. “Erlin…, sesungguhnya sampai kapanpun, bahkan sampai saat ini aku masih menyayangimu. Akan tetapi, sebagai seorang kristen kamu harus ingat bahwa apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia. Jadi, sayangilah dia sebagaimana engkau menyayangi aku selama ini”. Aku mencoba meyakinkan Erlin agar kuat dalam menghadapi tantangan itu, walaupun aku sendiri harus kehilangan orang yang sangat aku cintai selama ini. Sungguh…, kesedihan dan kekecewaan itu begitu dalam di hatiku. Tetapi, sekali lagi aku berpikir bahwa aku harus berkorban demi kebahagiaan orang lain. Bukankah itu yang dilakukan Yesus Kristus di kayu salib untuk menebus dosa manusia?”. Tiada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang sahabat yang menyerahkan nyawanya demi sahabat-sahabatnya.

CERPEN

Akhir Sebuah Penantian (Oleh: Erick M. Sila) Ketika aku terbangun dari tidur, ku dapati sang surya mulai terbenam di ufuk barat. Itu berarti bahwa sebentar lagi malam datang menjemput. Aku pun mulai beranjak dari peraduanku dan dengan langkah kecil aku menuju ke dapur. “Eh mama, lagi buat apa ma? Tanyaku kepada mama dengan nada sedikit menggoda”. “Eh, George, kok baru bangun…?”. “Ia ma, tadi terlambat pulang dari kampus”. Jawabku dengan suara kecil bercampur sisa kantuk. “Ow…, baiklah, bantu mama yuk persiapkan makan malam kita!”. “Okey ma, jawabku dengan nada penuh semangat”. Aku pun mulai membantu mama mempersiapkan segala sesuatu untuk makan malam nanti sampai tuntas. Setelah menyelesaikan tugas membantu mama di dapur, aku langsung mandi dan setelah itu aku langsung masuk kamar. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku saat itu. Tiba-tiba perasaanku diliputi kesedihan begitu dalam. Entah mengapa peristiwa satu tahun yang lalu muncul begitu jelas di kepalaku. Malam itu aku mencoba menuliskan tentang semua yang pernah terjadi di antara kami. Masih ku ingat semuanya. Siang itu sepulangnya dari kampus, Erlin menghampiri aku dan mengatakan bahwa ia akan pindak ke Yogyakarta bersama kedua orang tuanya dalam waktu dekat. Mendengar berita itu aku tersentak kaget dan dalam hati aku berpikir “Harus secepat inikah semuanya berlalu? Padahal ku baru saja mengenal Erlin tiga bulan yang lalu, itu berarti kami akan berpisah?”. Sehari setelah perjumpaan dengan Erlin itu, aku ternyata memiliki waktu senggang, dan karena cuacanya begitu cerah, aku meminta Erlin menjumpai aku di tempat di mana biasanya kami bertemu. Maka aku meminta Erlin menemui aku jam 16.00 sore. Akhirnya waktu yang telah disepakati antara aku dan Erlin pun tiba. Maka dengan sebuah kawasaki ninja RR, aku langsung meluncur ke sebuah taman di tengah kota Medan. “Erlin…!” “Eh… George”, balas Erlin. “Sudah lama menunggu?” Tanya ku kepada Erlin. “Ah, tidak, aku pun baru saja sampai”, lanjutnya. “Ooo.. baiklah kalau begitu”. Maka ku tuntun Erlin ke sebuah bangku di tepi sebuah kolam tepat di tengah-tengah taman itu. Dari tempat itu, melalui tirai dahan-dahan, di atas kabut tipis tampaklah sebuah bukit di seberang sana yang sangat menakjubkan. Keindahannya menggambarkan kemegahan kuasa Sang Pencipta. Tepatlah seperti yang dikatakan oleh pemasmur… “Langit menceritakan kemuliaan Allah dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar”. Yah… saat itu hanyalah rasa kagum, terdiam dan membisu. Dalam keheningan senja hari itu, aku hanya mampu memandangi dahi Erlin yang begitu indah, pandangan matanya yang jujur, rambutnya yang abu-abu dibiarkannya agak panjang, agak gelombag di dahi dan menutupi sebagian telinnganya. “Erlin….”. Aku memecah kesunyian di antara kami. “Ya…?”. “Kamu benar-benar akan pergi…?”. “Ia, George, bagaimanapun aku harus pergi. Ini semua demi aku dan kamu juga”. Aku lama terdiam. Sambil menarik nafas panjang aku berkata dengan lirih, “Erlin, sesungguhnya walau dengan berat hati, aku merelakan engkau pergi. Pergilah ke mana hati membawamu! Aku iklas kok. Namun aku yakin jika Tuhan berkehendak lain, kita pasti akan bersama-sama lagi”. “Ia, George…”. “Ada satu hal yang perlu kamu ketahui George”, Lanjut Erlin. “Apa itu…? Tanyaku penasaran”. “Semenjak pertama kali kita bertemu, tidak sesaatpun aku melupakanmu”. “Aku juga…” balasku dengan perasaan senag. “Ia George, semenjak aku mengenal kamu, aku merasah bahwa kamulah yang terbaik dari yang pernah aku jumpai dalam hidupku. Kamu sesalu hadir di saat aku membutuhkan bantuanmu. Segala yang baru dalam hidupku pasti ku lakukan bersamamu. Pokoknya sulit ku ungkapkan semuanya saat ini. Engkau begitu baik dan tulus kepadaku. Aku tidak bisah membalas semua kebaikanmu George saat ini, aku hanya memohon kiranya Tuhan yang akan membalas semuanya ini. “Erlin... jangan khawatir, Tuhan telah melihat semuanya dan Dialah yang akan membalas setiap perbuatan manusia yang baik maupun yang jahat”. Aku mencoba menguatkan hati Erlin walaupun dalam hati, aku pun merasakan kesedihan yang sama seperti yang dialami Erlin saat itu. Dua tahun berlalu aku dan Erlin hanya bisah berbagi cerita, canda dan tawa melalui surat dan telepon. Walaupun dipisahkan oleh jarak dan waktu kami selalu saling mendukung dan saling menguatkan di dalam doa. Pada suatu ketika, aku mendengar kabar dari salah seorang teman dekat Erlin bahwa besok ia akan diwisuda menjadi seorang sarjana muda jurusan sekretaris di sebuah universitas terkemuka di kota Yogyakarta. Mendengar berita itu aku merasa senang. Akan tetapi dalam kesenagan itu, aku bertanya-tanya dalam hatiku “mengapa kabar gembira ini harus aku dapatkan dari orang lain, ah, mungkin Erlin lagi sibuk dengan persiapan pestanya”. Aku mencoba menghilangkan segala pikiran itu dengan mencoba berpikir posetif. Keesokan harinya, aku menelepon Erlin untuk mengucapkan proficiat atas momen besar yang baru saja ia alami. Aku berpikir bahwa Erlin pasti sangat senang atas ucapan selamat dan surprise dariku saat itu. Namun apa yang terjadi? Ketika aku mencoba menghubunginya, terdengar suara lembut penuh wibawa dari seberang “nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi!”. Mulai saat itu, aku kehilangan kabar tentang keberadaan Erlin. Hari berganti, tahun pun berlalu. Akhirnya pada suatu hari aku di kejutkan dengan sebuah panggilan tak terduga. Ini adalah nomor baru yang sungguh tidak tersimpan sebagai anggota kontak dalam hand phoneku. “Apakah ini Erlin?”, tanyaku dalam hati. Ternyata dugaanku tidak salah. Malam itu, Erlin meneleponku dan mengatakan penyesalan yang begitu dalam atas segala perbuatan yang telah ia lakukan terhadapku. “George…”. “Ya…”, jawabku singkat. “Maafkan aku ya…?”, suaranya mulai terdengar agak berat menahan air mata. “Atas apa…?” tanyaku seolah-olah tidak tahu dengan persoalan yang telah terjadi. “Maafkan aku karena telah mengkhianati cinta yang telah bertahun-tahun kita bina bersama. Aku tidak bisah berbuat apa-apa saat itu. Kedua orang tuaku memaksaku untuk segera menikah dengan pria pilihan mereka. Aku telah membuatmu terluka George. Skali lagi maafkan aku”. Dari seberang sana suara tangisnya semakin terdengar memecah kesunyian malam itu. Saat itu, aku kehilangan seribu bahasa. Aku tidak tahu mau bilang apa saat itu. “Tapi George…”, Erlin melanjutkan lagi pembicaraannya sambil terisak. “Ya, kenapa Erlin…?”. “Aku sunguh menyesal atas pernikahan itu George. Aku tidak bahagia bersamanya. Aku ingin kembali kepadamu George. Aku sadar telah menyakiti hati kamu. Maukah kamu menerima aku kembali George?”. “Erlin…, sesungguhnya sampai kapanpun, bahkan sampai saat ini aku masih menyayangimu. Akan tetapi, sebagai seorang kristen kamu harus ingat bahwa apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia. Jadi, sayangilah dia sebagaimana engkau menyayangi aku selama ini”. Aku mencoba meyakinkan Erlin agar kuat dalam menghadapi tantangan itu, walaupun aku sendiri harus kehilangan orang yang sangat aku cintai selama ini. Sungguh…, kesedihan dan kekecewaan itu begitu dalam di hatiku. Tetapi, sekali lagi aku berpikir bahwa aku harus berkorban demi kebahagiaan orang lain. Bukankah itu yang dilakukan Yesus Kristus di kayu salib untuk menebus dosa manusia?”. Tiada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang sahabat yang menyerahkan nyawanya demi sahabat-sahabatnya.

Sabtu, 21 Mei 2011

KISAH...

Kisah Kelabu
Dari Bumi Lorosa’e
(Oleh: Fr. Erick M. Sila)

Di suatu malam yang sepi, gelap, dingin mencekam kalbu, aku menyandarkan diri pada sebatang pohon di tengah taman kecil di depan kamarku. Ketika itu yang terdengar hanyalah lolongan anjing dari kampung sebelah.
Sementara nyanyian para jangkrik di sekitarku pun tiada hentinya menghiburku. Mereka seakan mengerti dengan apa yang aku rasakan pada saat itu.. Kepada mereka ingin aku ceritakan tragedi dua belas tahun lalu yang membuatku kehilangan segalanya.
Ya… sore itu, langit tampak gelap padahal musim kemarau masi sepenggal saja berlangsung. Ketika itu sang mentari sudah hampir tenggelam di ufuk barat. Langit yang hampir gelap itu digarisi dengan warna-warna redup dan angin sore yang kering menggigilkan menghinggapi bumi Lorosa’e.
Sore itu seluruh keluarga telah berkumpul di rumah termasuk kakek dan nenek. Ketika itu, di ujung kampung mulai terdengar bunyi letusan dan rentetan senjata membisingkan telinga. Saat mendengar letusan yang amat dasyat itu, kami semua meniarap ketakutan di lantai, di balik tumpukan karung yang berisi penuh padi dan jagung. Dengan penuh ketakutan ibu mendekapku dan kakak erat-erat agar kami tidak mendengar suara rentetan tembakan itu. Aku memandangi wajah ibuku yang pucat, dingin dan gemetar tanpa sekatapun terucap. Saat itu ingin aku katakan kepada ibu “aku takut”, tetapi apabila terdengar dari luar, konsekuensinya adalah hidup atau mati. Sang ibu seakan mengerti tentang apa yang ingin aku katakan saat itu. Ibu membalas tatapanku dengan mengusap-usap kepalaku tanda memberi kekuatan.
Sementara sang ayah bersama abangku siaga di balik pintu, masing-masing dengan sebuah samurai panjang di tangannya. Mereka siap membabat habis siapa saja yang mau menerobos masuk dengan paksa. Malam itu terasa amat panjang, mendebarkan dan menakutkan.
Keesokan harinya keadaan semakin memanas. Pasukan pro kemerdekaan Timor Leste atau fretelin dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) saling mengadu kekuatan sehingga yang menjadi korban adalah rakyat biasa yang tidak tahu apa-apa.
Dengan terpaksa kami harus meninggalkan harta benda, rumah dan segalanya yang telah kami bangun bertahun-tahun dan kini harus ditinggalkan begitu saja. Hanya dengan pakaian di badan dan makanan secukupnya, kami lari tanpa tujuan yang pasti. Jalan satu-satunya yang paling aman adalah menuju ke hutan.
Maka dengan langkah penuh siaga kami menyusuri sebuah anak sungai yang tadinya jernih berkilauan kini berubah menjadi merah penuh darah. Melihat hal itu, kami hanya terdiam, Oh, Tuhan, kapan semua ini berakhir?
Tanpa banyak kata kami melewati anak sungai itu, melewati pepohonan hutan dengan batu-batunya yang tajam dan terjal dengan penuh hati-hati. Akhirnya kami sampai pada sebuah bukit di mana dari bukit itu nampak rumah dan kampung halamanku dengan jelas.
Dari kejauhan suara tangisan penduduk terdengar histeris. Sementara langit bumi Lorosa’e yang tadinya biru cemerlang, kini dihiasi dengan asap hitam tebal bercampur debu. Tiba-tiba dari puncak bukit itu kami melihat segerombolan pasukan pemberontak bergerak menuju ke kampung tempat rumahku berada. Mereka membakar habis semua rumah penduduk termasuk rumah kami. Melihat kejadian tersebut, ibuku tiba-tiba pingsan. Ibuku tidak rela melihat rumah kami yang tadinya berdiri kokoh kini harus rata dengan tanah dilahap si jago merah dalam hitungan menit. Kami semua panik, tidak tahu apa yang harus kami lakukan saat itu. Jalan satu-satunya adalah berdoa memohon kekuatan dari Tuhan agar semua ini cepat berlalu.
Beberapa menit kemudian ibuku sadar dari pingsannya. Wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang dingin dan lemah membuatku semakin sedih melihat keadaannya. Namun dalam kesedihan itu, aku mencoba menenangkan dan menguatkan ibuku bahwa semua ini bukanlah rencana kita, semua ini pasti berlalu. Yang jelas kita harus mencari jalan agar keluar dari tempat ini. Ibuku menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Senja berlalu malam hari pun tiba, akhirnya kami melangkah menuju ke sebuah lembah di sebelah bukit itu. Tempat ini sangat aman karena dikelilingi oleh beberapa bukit batu yang terjal dan curam. Di tempat inilah kami berlindung.
Jam telah menunjukkan pukul 22.00 WITA dan perut kami mulai terasa lapar. Ayah dan kakek membuat sebuah lubang di tanah sebagai tungku untuk memasak. Hal ini dilakukan untuk menghindari agar cahaya api tidak terlihat oleh pasukan pemberontak. Jika tidak demikian, bisa berbahaya bagi kami semua. Kami mulai makan dan tidak lupa juga menyisihkan untuk pagi dan siang. Kami takut karena apabila menghidupkan api pada siang hari akan menimbulkan asap dan dengan demikian tempat persembunyian kami dapat tercium oleh para pemberontak yang haus akan darah.
Seminggu berlalu, persediaan makanan yang kami bawa dari rumah akhirnya habis. Maka untuk mengisi perut kami selama sebulan lebih di lembah hutan itu, kami memanfaatkan umbi-umbian, pisang dan kelapa dari ladang orang lain yang ada di sekitar situ.
Melihat persediaan makanan yang sudah semakin sulit diperoleh, maka ayah teringat akan beberapa karung beras dan jagung yang ia kuburkan di samping rumah kami dua hari sebelum peristiwa itu. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kampung halaman untuk mengambilnya, tetapi ibuku tidak setuju atas keputusan ayah tersebut. Ibuku mengatakan bahwa “lebih baik mati kelaparan daripada mati di tangan para pemberontak yang tidak bertanggung jawab”. Namun ayahku tetap berkeras hati untuk pergi.
Matahari hampir tenggelam di ufuk barat dan aku melihat ayahku mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatannya. Maka ayahpun berangkat. Namun sebelum pergi ayah berpesan kepada kakek untuk menjaga kami dan ibu. Kalimat terakhir dari ayah kepada kakek dan ibu sebelum ia berangat adalah “kalian harus menunggu saya sampai saya kembali tetapi, jika terjadi sesuatu dengan saya kalian tidak boleh menunggu lama; kalian harus segera kekuar dari sini”. Aku melihat ibuku menagis, ia tidak mau ayah pergi. Tetapi ayah mengatakan bahwa apabila kita lapar, kita tidak bisa lari dari hutan yang luas ini. Akhirnya malam itu ayah pun pergi.
Hari berganti hari minggu berganti minggu, tidak terdengar kabar apa pun dari ayah. Jangan-jangan ayah sudah mati? pikiranku semakin tidak karuan. Huuuft…. aku menarik napas dalam-dalam sambil memohon kepada Tuhan agar ayahku pulang dengan selamat.
Pada suatu hari, kami dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang muncul dengan tiba-tiba. Ternyata ia adalah bapak Jhon tetangga kami. Untunglah senapan tumbuk yang diarahkan kakek kepadanya belum sempat di tarik bedilnya. Maksud kedatangannya adalah ingin menceritakan tentang keberadaan ayahku sekarang. Bapak jhon adalah saksi mata yang menyaksikan secara langsung peristiwa itu.
Bapak Jhon pun mulai bercerita. Pertama ia melihat ayahku melangkan pelan menuju ke arah rumah kami, ia terkejut dengan keadaan kampung yang tidak jelas. Rumah kami yang tadinya berdiri kokoh kini tidak ada lagi. Dengan wajah yang sedih, ia mencari-cari sesuatu. Setelah menemukannya, ia pun mulai menggali. Ketika ia mulai menggali, tiba-tida terdengar bunyi,, Doooooorrrr…., Doooorrr… dua buah peluru pemberontak mengenai dada dan kepalanya. Ia mati seketika. Kemudian, oleh para pemberontak ia dilemparkan ke dalam sebuah sumur di dekat rumah. Demikianlah kisahnya.
Mendengar berita itu, ibuku sesak napas dan tiba-tiba pingsan lagi. Kami semua menagis dan tidak tahu berbuat apa. Saat itu aku ingin berteriak tetapi tidak bisa. Suasana diselimuti duka yang mendalam, hanya pasrah, berdoa dan berharap kepada Tuhan. Sekarang aku tidak punya ayah lagi. Harapan kami satu-satunya adalah kakek dan nenek. Mereka masih cukup kuat untuk menjaga kami.
Sejak peristiwa itu, kondisi ibu semakin parah. Ia sering sesak napas, batuk dan bahkan sampai pingsan hingga beberapa menit. Kita tidak boleh tinggal diam kata kekek. Kita harus segera pergi dari sini. Maka kesesokan harinya kami mulai mencari jalan keluar. Dengan langkah tertatih-tatih kami menyusuri lembah, sungai dan gunung, akhirnya kami menemukan sebuah jalan tikus. Akhirnya kami sampai pada sebuah desa yang bernama desa Baki Tolas. Desa Baki Tolas adalah sebuah desa di Timor Barat yang masi termasuk wilayah Indonesia saat ini. Kami semua tiba dengan selamat.
Walaupun kami tiba dengan selamat dan berjumpa dengan keluarga besar di sana, tetapi rasa duka atas kematian ayah tercinta masi terasa kuat di dada terutama oleh sang ibu. Karena trauma atas peristiwa itu, kondisi kesehatan ibu pun semakin parah. Segala usaha telah kami lakukan demi kesembuhan ibuku, tetapi sepertinya sia-sia. Maka peristiwa duka kami memuncak ketika beberapa minggu kemudian. Ibu tercinta pun akhirnya pergi meninggalkan kami semua untuk selama-lamanya. Sekarang aku tidak punya siapa-siapa, kemana aku harus pergi?????
Dalam kesedihan dan pergumulan batin yang begitu mendalam, tiba-tiba aku dikejutkan oleh seorang frater. Eh.. kamu ngapain di sini, Belum tidur ya? Sudah jam 02.15 sekarang, tidurlah! Nanti besok terlambat misa. Ia frater.. jawabku singkat. Lalu dengan langkah pelan aku melangkah menuju kamarku.
Apakah semua ini harus berakhir sampai di sini? Tidak. Masi ada masa depan yang telah direncanakan Allah untuk kita. Yesus telah wafat dan bangkit bagiku. Ia telah membebaskan aku dari kesedihan, rasa duka yang mendalam dan kini ia mengenakan padaku suatu sukacita yang tak terhingga. Allahku segalanya, “Deus Meus et Omnia”.

(Cerita ini adalah kisah nyata yang dialami oleh: Fr. Jacinto Elu, OFMConv)
KISAH....


Kisah Kelabu
Dari Bumi Lorosa’e
(Oleh: Fr. Erick M. Sila)

Di suatu malam yang sepi, gelap, dingin mencekam kalbu, aku menyandarkan diri pada sebatang pohon di tengah taman kecil di depan kamarku. Ketika itu yang terdengar hanyalah lolongan anjing dari kampung sebelah.
Sementara nyanyian para jangkrik di sekitarku pun tiada hentinya menghiburku. Mereka seakan mengerti dengan apa yang aku rasakan pada saat itu.. Kepada mereka ingin aku ceritakan tragedi dua belas tahun lalu yang membuatku kehilangan segalanya.
Ya… sore itu, langit tampak gelap padahal musim kemarau masi sepenggal saja berlangsung. Ketika itu sang mentari sudah hampir tenggelam di ufuk barat. Langit yang hampir gelap itu digarisi dengan warna-warna redup dan angin sore yang kering menggigilkan menghinggapi bumi Lorosa’e.
Sore itu seluruh keluarga telah berkumpul di rumah termasuk kakek dan nenek. Ketika itu, di ujung kampung mulai terdengar bunyi letusan dan rentetan senjata membisingkan telinga. Saat mendengar letusan yang amat dasyat itu, kami semua meniarap ketakutan di lantai, di balik tumpukan karung yang berisi penuh padi dan jagung. Dengan penuh ketakutan ibu mendekapku dan kakak erat-erat agar kami tidak mendengar suara rentetan tembakan itu. Aku memandangi wajah ibuku yang pucat, dingin dan gemetar tanpa sekatapun terucap. Saat itu ingin aku katakan kepada ibu “aku takut”, tetapi apabila terdengar dari luar, konsekuensinya adalah hidup atau mati. Sang ibu seakan mengerti tentang apa yang ingin aku katakan saat itu. Ibu membalas tatapanku dengan mengusap-usap kepalaku tanda memberi kekuatan.
Sementara sang ayah bersama abangku siaga di balik pintu, masing-masing dengan sebuah samurai panjang di tangannya. Mereka siap membabat habis siapa saja yang mau menerobos masuk dengan paksa. Malam itu terasa amat panjang, mendebarkan dan menakutkan.
Keesokan harinya keadaan semakin memanas. Pasukan pro kemerdekaan Timor Leste atau fretelin dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) saling mengadu kekuatan sehingga yang menjadi korban adalah rakyat biasa yang tidak tahu apa-apa.
Dengan terpaksa kami harus meninggalkan harta benda, rumah dan segalanya yang telah kami bangun bertahun-tahun dan kini harus ditinggalkan begitu saja. Hanya dengan pakaian di badan dan makanan secukupnya, kami lari tanpa tujuan yang pasti. Jalan satu-satunya yang paling aman adalah menuju ke hutan.
Maka dengan langkah penuh siaga kami menyusuri sebuah anak sungai yang tadinya jernih berkilauan kini berubah menjadi merah penuh darah. Melihat hal itu, kami hanya terdiam, Oh, Tuhan, kapan semua ini berakhir?
Tanpa banyak kata kami melewati anak sungai itu, melewati pepohonan hutan dengan batu-batunya yang tajam dan terjal dengan penuh hati-hati. Akhirnya kami sampai pada sebuah bukit di mana dari bukit itu nampak rumah dan kampung halamanku dengan jelas.
Dari kejauhan suara tangisan penduduk terdengar histeris. Sementara langit bumi Lorosa’e yang tadinya biru cemerlang, kini dihiasi dengan asap hitam tebal bercampur debu. Tiba-tiba dari puncak bukit itu kami melihat segerombolan pasukan pemberontak bergerak menuju ke kampung tempat rumahku berada. Mereka membakar habis semua rumah penduduk termasuk rumah kami. Melihat kejadian tersebut, ibuku tiba-tiba pingsan. Ibuku tidak rela melihat rumah kami yang tadinya berdiri kokoh kini harus rata dengan tanah dilahap si jago merah dalam hitungan menit. Kami semua panik, tidak tahu apa yang harus kami lakukan saat itu. Jalan satu-satunya adalah berdoa memohon kekuatan dari Tuhan agar semua ini cepat berlalu.
Beberapa menit kemudian ibuku sadar dari pingsannya. Wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang dingin dan lemah membuatku semakin sedih melihat keadaannya. Namun dalam kesedihan itu, aku mencoba menenangkan dan menguatkan ibuku bahwa semua ini bukanlah rencana kita, semua ini pasti berlalu. Yang jelas kita harus mencari jalan agar keluar dari tempat ini. Ibuku menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Senja berlalu malam hari pun tiba, akhirnya kami melangkah menuju ke sebuah lembah di sebelah bukit itu. Tempat ini sangat aman karena dikelilingi oleh beberapa bukit batu yang terjal dan curam. Di tempat inilah kami berlindung.
Jam telah menunjukkan pukul 22.00 WITA dan perut kami mulai terasa lapar. Ayah dan kakek membuat sebuah lubang di tanah sebagai tungku untuk memasak. Hal ini dilakukan untuk menghindari agar cahaya api tidak terlihat oleh pasukan pemberontak. Jika tidak demikian, bisa berbahaya bagi kami semua. Kami mulai makan dan tidak lupa juga menyisihkan untuk pagi dan siang. Kami takut karena apabila menghidupkan api pada siang hari akan menimbulkan asap dan dengan demikian tempat persembunyian kami dapat tercium oleh para pemberontak yang haus akan darah.
Seminggu berlalu, persediaan makanan yang kami bawa dari rumah akhirnya habis. Maka untuk mengisi perut kami selama sebulan lebih di lembah hutan itu, kami memanfaatkan umbi-umbian, pisang dan kelapa dari ladang orang lain yang ada di sekitar situ.
Melihat persediaan makanan yang sudah semakin sulit diperoleh, maka ayah teringat akan beberapa karung beras dan jagung yang ia kuburkan di samping rumah kami dua hari sebelum peristiwa itu. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kampung halaman untuk mengambilnya, tetapi ibuku tidak setuju atas keputusan ayah tersebut. Ibuku mengatakan bahwa “lebih baik mati kelaparan daripada mati di tangan para pemberontak yang tidak bertanggung jawab”. Namun ayahku tetap berkeras hati untuk pergi.
Matahari hampir tenggelam di ufuk barat dan aku melihat ayahku mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatannya. Maka ayahpun berangkat. Namun sebelum pergi ayah berpesan kepada kakek untuk menjaga kami dan ibu. Kalimat terakhir dari ayah kepada kakek dan ibu sebelum ia berangat adalah “kalian harus menunggu saya sampai saya kembali tetapi, jika terjadi sesuatu dengan saya kalian tidak boleh menunggu lama; kalian harus segera kekuar dari sini”. Aku melihat ibuku menagis, ia tidak mau ayah pergi. Tetapi ayah mengatakan bahwa apabila kita lapar, kita tidak bisa lari dari hutan yang luas ini. Akhirnya malam itu ayah pun pergi.
Hari berganti hari minggu berganti minggu, tidak terdengar kabar apa pun dari ayah. Jangan-jangan ayah sudah mati? pikiranku semakin tidak karuan. Huuuft…. aku menarik napas dalam-dalam sambil memohon kepada Tuhan agar ayahku pulang dengan selamat.
Pada suatu hari, kami dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang muncul dengan tiba-tiba. Ternyata ia adalah bapak Jhon tetangga kami. Untunglah senapan tumbuk yang diarahkan kakek kepadanya belum sempat di tarik bedilnya. Maksud kedatangannya adalah ingin menceritakan tentang keberadaan ayahku sekarang. Bapak jhon adalah saksi mata yang menyaksikan secara langsung peristiwa itu.
Bapak Jhon pun mulai bercerita. Pertama ia melihat ayahku melangkan pelan menuju ke arah rumah kami, ia terkejut dengan keadaan kampung yang tidak jelas. Rumah kami yang tadinya berdiri kokoh kini tidak ada lagi. Dengan wajah yang sedih, ia mencari-cari sesuatu. Setelah menemukannya, ia pun mulai menggali. Ketika ia mulai menggali, tiba-tida terdengar bunyi,, Doooooorrrr…., Doooorrr… dua buah peluru pemberontak mengenai dada dan kepalanya. Ia mati seketika. Kemudian, oleh para pemberontak ia dilemparkan ke dalam sebuah sumur di dekat rumah. Demikianlah kisahnya.
Mendengar berita itu, ibuku sesak napas dan tiba-tiba pingsan lagi. Kami semua menagis dan tidak tahu berbuat apa. Saat itu aku ingin berteriak tetapi tidak bisa. Suasana diselimuti duka yang mendalam, hanya pasrah, berdoa dan berharap kepada Tuhan. Sekarang aku tidak punya ayah lagi. Harapan kami satu-satunya adalah kakek dan nenek. Mereka masih cukup kuat untuk menjaga kami.
Sejak peristiwa itu, kondisi ibu semakin parah. Ia sering sesak napas, batuk dan bahkan sampai pingsan hingga beberapa menit. Kita tidak boleh tinggal diam kata kekek. Kita harus segera pergi dari sini. Maka kesesokan harinya kami mulai mencari jalan keluar. Dengan langkah tertatih-tatih kami menyusuri lembah, sungai dan gunung, akhirnya kami menemukan sebuah jalan tikus. Akhirnya kami sampai pada sebuah desa yang bernama desa Baki Tolas. Desa Baki Tolas adalah sebuah desa di Timor Barat yang masi termasuk wilayah Indonesia saat ini. Kami semua tiba dengan selamat.
Walaupun kami tiba dengan selamat dan berjumpa dengan keluarga besar di sana, tetapi rasa duka atas kematian ayah tercinta masi terasa kuat di dada terutama oleh sang ibu. Karena trauma atas peristiwa itu, kondisi kesehatan ibu pun semakin parah. Segala usaha telah kami lakukan demi kesembuhan ibuku, tetapi sepertinya sia-sia. Maka peristiwa duka kami memuncak ketika beberapa minggu kemudian. Ibu tercinta pun akhirnya pergi meninggalkan kami semua untuk selama-lamanya. Sekarang aku tidak punya siapa-siapa, kemana aku harus pergi?????
Dalam kesedihan dan pergumulan batin yang begitu mendalam, tiba-tiba aku dikejutkan oleh seorang frater. Eh.. kamu ngapain di sini, Belum tidur ya? Sudah jam 02.15 sekarang, tidurlah! Nanti besok terlambat misa. Ia frater.. jawabku singkat. Lalu dengan langkah pelan aku melangkah menuju kamarku.
Apakah semua ini harus berakhir sampai di sini? Tidak. Masi ada masa depan yang telah direncanakan Allah untuk kita. Yesus telah wafat dan bangkit bagiku. Ia telah membebaskan aku dari kesedihan, rasa duka yang mendalam dan kini ia mengenakan padaku suatu sukacita yang tak terhingga. Allahku segalanya, “Deus Meus et Omnia”.

(Cerita ini adalah kisah nyata yang dialami oleh: Fr. Jacinto Elu, OFMConv)

Jumat, 20 Mei 2011

SOAL-SOAL KUIS KITAB SUCI


1. Tanda apa yang melindungi rumah-rumah orang Israel dari tulah kematian anak sulung? Jawaban: Darah di ambang pintu.
2. Apa yang dikatakan Yesus yang bangkit kepada Maria Magdalena? Jawaban: “Ibu, mengapa engkau menangis?”.
3. Ketika Maria Magdalena mendengar Yesus menyebutkan namanya setelah bangkit-Nya, bagaimana ia memanggil Yesus? Jawaban: “Rabuni” (Yoh 20:16).
4. Di manakah Tuhan Yesus berada setelah diangkat ke surga, menurut Injil Markus? Jawaban: Di surga, duduk di sebelah kanan Allah (Mrk 16:19).
5. Menurut Yudas apa yang diperselisihkan iblis dengan Mikhael, sang penghulu malaikat? Jawaban: Mayat Musa.
6. Siapa yang mengetahuai siapakah bapa itu, menurut Yudas dalam Injil Likas? Jawab: Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan itu (Luk 10:22).
7. Ketika seorang prajurit menikam lambung Yesus dengan tombak setelan Dia mati, apa yang mengalir dari perut-Nya? Jawab: Darah dan Air (Yoh 19:33-34).
8. Apa hal pertama yang dikatakan Yesus kepada murid-murid-Nya – yang bahkan dikatakan dua kali – ketika mereka berkumpul bersama-sama setelah Dia bangkit? Jawaban: “Damai sejahtera bagi kamu” (Yoh 20:19-21).
9. Manakah dari murid-murid berikut yang tidak bersama dengan Yesus ketika Ia ditangkap di taman Getsemani? Jawaban: Andreas (Mrk 14:32-33).
10. Apa yang dikatakan Yesus kepada murid-murid-Nya setelah Ia bangkit, sebelum memberikan Roh-Nya kepada mereka? Jawab: Ia mengembusi mereka (Yoh 20:21-22).
11. Sebagai kurban darah bagi dosa kita, Yesus Sang Penebus sering diumpamakan dengan persembahan apa dalam Perjanjian Lama? Jawaban: Anak Domba (Why 5:6-9).
12. Siapakah yang terpilih berdasarkan undian untuk menjadi murid kedua belas, menggantikan Yudas yang telah mati? Jawab: Mtias (Kis 1:23-26).
13. Siapakah yang mengatakan, “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah”? Jawaban: Yudas Iskariot (Mat 27:3-4).
14. siapakah yang mendorong Pilatus untuk membebaska Yesus setelah bermimpi tentang Dia? Jawaban: Istri Pilatus (Mat 27:17-19).
15. Dalam peristiwa apa Yesus berfirman “Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam kerajaan Bapa-Ku? Jawab: Perjamuan Terakhir (Mat 26:17-29).
16. Sebelum Yesus naik ke surga, Dia memberi tahu murid-murid-Nya bahwa mereka akan menjadi saksi-saksi-Nya di Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria, dan di mana lagi? Jawaban: “Sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8).
17. dengan zaman apa dalam Perjanjian Lama Yesus membandingkan zaman ketika Anak Manusia akan datang kembali? Jawab: Zaman Nuh (Mat 24:37).
18. Apa yang dilakukan juruselamat kita, Tuhan Yesus Kristus, pada tubuh kita saat berada bersama dengan Dia di surga? Jawab: Yesus yang mulia (Fil 3:21).
19. Ketiga penulis Injil mengatakan bahwa Anak Manusia akan datang kembali pada saat apa? Jawaban: di saat ketika kita tidak menduganya (Mat 24: 44; Luk 21:34; Mrk 13:33).
20. Apa bukti yang paling kuat untuk membuktikan bahwa Yesus sungguh-sungguh bangkit? Jawaban: perjumpaan dengan para murid.
21. kepada siapakah Yesus berkata ketika Dia berfirman “Untuk Itulah Aku lahir dan untuk itulah aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku”? Jawab: Pontius Pilatus (Yoh 18:37).
22. Siapakah rasul yang tidak berada berada bersama-sama murid yang lain ketika Yesus menampakan diri kepada mereka? Jawaban: Thomas.
23. Di manakah Yesus berada sekarang? Jawab: duduk di sebelah kanan tahkta Allah (Ibr 12:2)
24. Ketika datang kedua kalinya, di manakah dia akan muncul, dan dia atas apa? Jawab: di aas awan-awan di langit (Mat 24:30).
25. Menurut Yesus bagaimana jalan yang “menuju kepada kehidupan”? Jawab: sempit (Mat 7:13:14).
26. Siapakah rasul yang mendapati dirinya “mengapung” sehingga bisa berjalan di atas air bersama Yesus – hanya selama ia terus memandang kepada Yesus? Jawab: Petrus (Mat 14:28-31).
27. Batu yang menutup kubur Yesus digulingkan oleh? Jawab: Malaikat (Mat 28:2-5).
28. Apa yang dimaksudkan Yesus ketika Ia berkata “Runtuhkanlah Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan membangunnya kembali”? Jawab: Tubuhnya sendiri.
29. Apa yang dimakan Yesus di depan Murid-murid-Nya tak lama setelah kebangkitan-Nya? Jawab: Ikan Goreng (Luk 24:36-43).
30. Setelah Yesus angkit ia masih bersama-sama para murid di dunia. Berapa lamakah Yesus berada bersama para murid sebelum naik ke surga? Jawab: 50 hari.